Pelatihan PMBA

Senaning – Bertempat di Home Base Nusantara Sehat (NS) Ketungau Hulu Jalan Dwikora RT 02/RW 01 Dusun Entebak Desa Senaning, dilaksanakan Kegiatan Praktik/Pelatihan Pemberian Makan Pada Bayi dan Anak (PMBA). Kegiatan Pelatihan ini diselenggarakan oleh Tim Dinas Kabupaten Sintang yang diikuti langsung oleh Bapak Darmadi, S.KM, M.Kes (Kabid Kesmas Dinkes Kab.Sintang) juga sebagai penanggung jawab kegiatan, Bapak Isworo, S.Sos (Koordinator Tim Fasilitator Pelatihan), dan Sigit Margo U, A.Md.Gz, Purwono, S.Sos, Armita Dewi, S.KM (Anggota Tm Fasilitator Pelatihan). Pelatihan ini diikuti oleh 12 orang peserta perwakilan yang diambil dari beberapa Desa yang ada di Kecamatan Ketungau Hulu dalam rangka Proyek Kesehatan Gizi Berbasis Masyarakat (PKBGM) untuk mengurangi Stunting. Selain fasilitator dari Kabupaten juga dilibatkan fasilitator dari Kecamatan yakni Ibu Riris dan Ibu Melati (Tenaga Kesehatan Puskesmas Senaning).

suasana pelatihan
Tenaga Fasilitator Kecamatan Ibu Riris dan Ibu Melati

Latar Belakang Kegiatan, Indonesia telah mengalami kemajuan dalam menurunkan angka kemiskinan dari 16,6% menjadi 12,5% pada tahun 2011, namun demikian kekurangan gizi pada anak masih tetap menjadi masalah. Riskesdas 2010 memperlihatkan bahwa prevalensi gizi kurang (Berat Badan menurut Umur di bawah standar) pada anak usia di bawah lima tahun telah menurun hingga di bawah 18%, tetapi prevalensi anak pendek (yang untuk selanjutnya disebut stunting) masih tinggi dan termasuk menjadi masalah kesehatan masyarakat. Prevalensi stunting pada tahun 2010 35,6% atau diperkirakan 7.688.000 anak Indonesia dikategorikan stunting.

Stunting merupakan kekurangan gizi kronis akibat kekurangan asupan zat gizi dalam waktu yang lama, biasanya diikuti dengan frekuensi sering sakit, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengasuhan, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan. Stunting terkait erat dengan gangguan perkembangan kognitif dan produktivitas. Pada saat dewasa seringkali mengalami keterbatasan fisik, mudah terserang penyakit menular dan tidak menular serta rendahnya kemampuan kognitif yang menyebabkan hilangnya kesempatan kerja. Semua hal tersebut bersama-sama meminimalkan potensi penghasilan seumur hidupnya. Masa janin sampai usia dua tahun saat ini sering disebut 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) atau sering juga disebut periode kritis atau periode sensitif. Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan periode lainnya. Namun demikian, justru pada periode tersebut terjadi gangguan pertumbuhan yang cukup serius pada Anak Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia pada anak usia 6-11 bulan sebesar 11,9%, meningkat dengan tajam menjadi 27,6% pada usia 12-17 bulan dan meningkat menjadi 42,3% pada usia 18-24 bulan. Prevalensi anemia gizi pada anak usia 6-23 bulan adalah sebesar 53-57 %. Dari pola konsumsi makan, baru sekitar 42% anak usia 6-23 bulan di Indonesia yang memenuhi standar diet minimal.

Pemerintah telah menetapkan kebijakan untuk mencegah stunting. Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 menyebutkan bahwa salah satu tujuan pembangunan adalah menurunkan prevalensi stunting menjadi maksimal 32% pada tahun 2014. Dalam jangka panjang, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan prevalensi stunting sebesar 40% pada tahun 2025. Memperhatikan data Riskesdas tahun 2010 dan 2013, diperkirakan sulit mencapai target menurunkan prevalensi stunting menjadi 32 % pada tahun 2014. Untuk mempercepat upaya penurunan prevalensi stunting, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden No. 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dengan fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan. Gerakan Nasional tersebut merupakan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama menurunkan prevalensi stunting dengan memenuhi kebutuhan dasar ibu hamil dan anak usia 0-2 tahun. Pemerintah Indonesia, dengan dukungan hibah dari Amerika Serikat melalui Millenium Challenge Corporation, akan melaksanakan inisiatif baru untuk mengurangi anak pendek. Inisiatif baru ini adalah Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mengurangi Anak Pendek (PKGBM). PKGBM adalah sebuah peluang bagi Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan program yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mencegah anak pendek di lokasi terpilih.

Kegiatan Pelatihan di Desa Senaning ini dilaksanakan dari tanggal 10 s/d 19 April 2017 dengan 3 Gelombang, yakni untuk kader dari masyarakat desa dan untuk kader dari tenaga kesehatan di Desa Terpilih.

Bapak Isworo memantau jalannya pelatihan
Bersama Bapak Darmadi (kanan) Kabid Kesmas Dinkes Kab.Sintang

Menurut Bapak Darmadi “ Kegiatan ini akan memberikan penjelasan mengenai Pemberian Makan dari Bahan Lokal MP-ASI, Sosialisasi Penyediaan Suplemen Gizi Mikro, Cara memberikan ASI Eksklusif Tanpa Tangan, Penjelasan Makanan dan Pola Asuh Bayi dan Anak, dan Cara Membuat Makanan Sesuai Usia Bayi kepada Kader yang dilatih, Kegiatan ini adalah Kerjasama antara Kemenkes RI dan Milennium Challenge Corporation USA, diselenggarakan bekerjasama dengan PNPM Generasi. Tujuan akhirnya nanti para kader akan mampu dan dapat melaksanakan pemahaman kepada masyarakat sebagai penyambung lidah kesehatan, karena kader itu dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dan untuk diketahui itu kader sebenarnya bukanlah dari tenaga kesehatan namun masyarakat yang mengetahui tentang kesehatan”.

Praktek Pembuatan Makanan Bayi

Para peserta sangat bersemangat mengikuti kegiatan untuk mendapat pengetahuan, kegiatan yang  dimulai dari pagi hingga malam hari ini terasa nyaman dan santai karena ada praktek langsung setelah membahas materi. Untuk kabupaten sintang, ada 5 wilayah yang akan dilaksanakan kegiatan pelatihan, yakni Kecamatan Ketungau Hulu, Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Binjai dan Sungai Tebelian. (kontributor : dee).

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan