Sejarah Desa

SEKILAS SEJARAH DESA SENANING

img_20150601_0001

Awal bermula dari Zaman Kolonial Belanda sekitar abad 18 di Banjarmasin tepatnya dikerajaan Banjar ada beberapa keluarga kerajaan yang tidak ingin bersekutu dengan Belanda karena pada waktu itu pihak Belanda mengadu domba keluarga kerajaan untuk saling bertikai, sehingga beberapa orang tersebut mengasingkan diri dari Banjarmasin ke Kerajaan Sintang, sebenarnya mereka adalah para Hulubalang (Panglima) dan pemuka agama Islam, mereka  bernama Muhamad Sa’ad (mad sa’ad), Muhamad Aris (mad aris), Muhamad Yusuf (mad yusuf), Muhamad Nur (mad nur), Muhamad Umar (mad umar). Singkat Cerita dikerajaan Sintang mereka diterima oleh penembahan kerajaan Sintang karena Orang tua mereka yakni Kiyai Gusti Mat Arif sudah terlebih dahulu bermukim di Kerajaan Sintang sebagai salah satu penasehat disana, tidak beberapa lama tinggal di Kerjaan mereka berlima pun meminta ijin kepada penembahan Kerajaan Sintang untuk memasuki wilayah hulu Kerajaan Sintang yakni Sungai Ketungau untuk membuka wilayah yang belum pernah dibuka untuk pemukiman resmi sambil menyebarkan Agama Islam.

Memasuki wilayah sepanjang Sungai Ketungau mereka singgah dan bekerja menebang kayu, mengerjakan damar dan rotan, yang mana sebelumnya juga sudah ada para penduduk asli dan pendatang yang bekerja disana sampai ke Nanga Merakai, Sekalau, Bugau, Nanga Saih dan anak-anak Sungai Ketungau lainnya.

Dalam perjalanannya mereka memasuki Menua Bugau (Wilayah Bugau), karena melihat ada tempat bagus yang terletak dipesisir sungai Ketungau Hulu kemudian mereka mulai membuat tempat bermukim, sebenarnya menurut adat istiadat setempat sebelum membuat pemukiman harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Pemimpin Menua tetapi karena jauhnya jarak yang ditempuh untuk menghadap Pemimpin Menua maka mereka langsung  saja mendirikan pemukiman tersebut, Menua Bugau pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Menua yang bernama Gelundang yang bergelar Patih Agung Kumbang Menua.

Ditempat mereka mendirikan pemukiman tersebut ternyata adalah wilayah tanah perkuburan/pendam bugau palak menua dan mereka dinyatakan bersalah karena melanggar adat, setelah kejadian itu mereka berpencar dari tempat tersebut kemudian mudik lebih ke hulu, dengan tetap bekerja berladang dan menanam karet, Mad Aris berada di Setebang, Mad Sa’ad di Nanga Sungai Antu dan ada yang di Nanga Wak. Setelah beberapa tahun berlalu dan dengan jasa mereka yang telah membantu mengusir serangan Suku Dayak Batang Lupar (daerah sarawak – malaysia timur) karena waktu itu sering terjadi penyerangan dari daerah sarawak ke daerah bugau, maka sekitar tahun 1910 dengan diketuai oleh Mad Sa’ad mereka datang menghadap Patih Agung Kumbang Menua, meminta agar bisa mendirikan kampung di Senaning, tapi syarat yang diberikan untuk mendirikan kampung adalah 10KK dan mereka hanya berjumlah 7KK, terpaksa mereka menunda sementara, akhirnya datanglah para penduduk-penduduk baru yang ingin bermukim, maka pada tahun 1930 barulah resmi berdiri Kampung Senaning, dimana antara Mad Sa’ad dan Patih Agung Kumbang Menua mengangkat sumpah untuk tidak membuat hal yang dapat merusak satu sama lain dan sebagai pimpinan mereka mengangkat sumpah mengaku bersaudara dengan meminum darah satu sama lain (nyucup darah), sebagai tanda mata (saksi) Mad Sa’ad menyerahkan sehelai selimut tebal yakni kain tenun banjar sebagai tanda mengaku berada di Menua Bugau. Kemudian Patih Agung Kumbang Menua menyerahkan gelang tembaga dan sehelai kain songket khas bugau sebagai tanda mata (saksi). Kedua barang tersebut masih tersimpan dengan baik ditempat keturunan dari kedua belah pihak, ini sebagai bukti sejarah antara Melayu dan Dayak di Ketungau Hulu adalah saudara.

img_20161103_100536
Gelang Tembaga Pemberian Patih Kumbang Menua

Cikal bakal nama Senaning berasal dari kata “Se” menunjukkan Sungai dan “Naning” adalah nama semacam binatang seperti kumbang atau penyengat yang banyak terdapat di sungai kampung tersebut yang akhirnya menjadi nama Kampung Senaning/Desa Senaning.

Sungai yang terdapat kayu Kumpang menjadi sarang Naning yang ditebang oleh salah satu pendiri Desa Senaning masih dapat dilihat sampai sekarang, sungai senaning berada di RT II Dusun Entebak disamping masjid Al-Ikhlas sebagai bukti cerita dari sejarah lahirnya desa ini.

Daftar Nama Kepala Desa Senaning Yang Pernah Menjabat dan Sedang Menjabat

1. Muhammad Saad   :  1930 – 1947

2. Umayah                    :  1947 – 1948

3. Tahar                         :  1948 – 1958

4. Tunyoi                       :  1958 – 1969

5. Mahidin                     :  1969 – 1980

6. Abdul Hamid            :  1980 – 1982

7. Anoi  Yatim                :  1982 – 1992

8. H.Sulaiman Bakri    :  1992 – 1999

9. Eddie Simon              :  1999 – 2007

10. Alfian                         :  2008 – 2014

11. Alfian                          :  2014 – Sampai Sekarang